Kalau belum baca part.1 nya, sila baca disini yah:
para sarjana pilih asi atau sufor?
Di negara-negara maju, sudah banyak yang melarang iklan susu formula, atau paling tidak membatasi iklannya. Karena kalau ga dibatasi, ya akibatnya seperti di Indonesia ini, iklan susu formula begitu membabi buta, agresif, dan gencar!
Sampai-sampai nih, sekarang masih banyak yang beranggapan susu formula itu lebih baik dari pada ASI, karena susu formula mengandung DHA dsb dsb, sehingga bisa bikin pinter. ugh…
Banyak keluarga disekitarku yang sebenernya kurang mampu, tapi menghabiskan hampir 50% penghasilannya untuk belanja susu formula, miris kan? Padahal budget itu kalau ditabung bisa untuk ongkos pendidikannya kelak.
Yah ini semua karena anjuran ASI eksklusif masih kalah jauh sama gencarnya iklan susu formula. So, mari kita dukung bu mentri yang mencoba membatasi iklan susu formula.
Tahu sendirikan perusahaan-perusahaan susu formula begitu kuatnya mencengkeram dari eksekutif sampai legislatif. Sampai-sampai, susu yang terkontaminasi bakteri aja ga juga diumumkan. Padahal sangat-sangat sepele, hanya mengumumkan suatu fakta lhoh.
Sempet miris juga, malah ada nih beberapa orang yang menyesalkan kenapa sih banyak orang yang agresif banget mengkampanyekan ASI eksklusif. Ugh, ga tau tuh kalau gerakan kampanye ASI eksklusif bener-bener lemah, tak terorganisir dan sangat low budget dibandingin sama kampanye susu formula nya para raksasa perusahaan sufor.
Coba juga perhatiin iklan-iklan sufor di TV, dijamin deh pasti bagus, berkelas, dan ga ndeso. Iklannya di jam-jam premium, di acara-acara yang premium pula.
Trus gimana ASI eksklusif bisa membudaya? ya dengan cara kampanye akar rumput seperti kita-kita ini untuk menyadarkan orang-orang sekitar. “For the better future”, hayahh ….
23 Apr, 2011
Posted by: ogi In: Uncategorized
Kebanyakan yang nulis tentang ASI cewek dan ibu-ibu yah? Sekali-sekali bapak-bapak boleh dong nulis tentang ASI.
Pasti deh, hampir semua dari kita sudah tahu pentingnya ASI *yaiyalahhh* . Tapi mengherankan juga saat semakin banyak kutemui, temen-temen sendiri dengan tingkat pendidikan tinggi, tingkat ekonomi yang, hmmm, lumayan tinggi lah, ternyata masih kurang sadar untuk bekerja keras memberikan ASI pada anaknya.
Alasan yang biasa muncul, atau dimunculkan oleh para ibu berpendidikan tinggi adalah,
1. ASI nya sedikit dan kurang mencukupi
2. Kerja, jadi ga mungkin kasih susu ASI eksklusif
3. Tekanan keluarga, yang mengeluhkan bayinya kehausan atau kurang endut:D
atau juga kurangnya dukungan keluarga
In my humble opinion, sebenernya penyebab utama kenapa ibu-ibu berpendidikan itu ga mau atau kurang mau menyusui anaknya adalah karena para ibu itu belum bener-bener paham apa sih pentingnya ASI eksklusif, dan kurang paham bahwa hambatan-hambatan itu sebenernya bisa dilalui, asal ada tekad dan niatan, dan pastinya dukungan orang di sekitar.
1. ASI sedikit
Bukannya sok menggurui yah, hanya ingin mengajak kepada kebaikan aja, hedehhh….
sebagai contoh, alasan ASI sedikit itu akan dialami oleh sebagian besar ibu menyusui, karena emang bayi yang baru lahir itu kebutuhan minumnya masih sedikit, jadi secara kodratnya, ASI yang keluar emang masih sedikit. Jadi emang harus sabar dulu kali yahh ![]()
Trus ASI sedikit itu sebenernya bisa diatasi dengan kerja keras, mulai dari konsultasi ke konsultan menyusui, banyak yang gratis lho. Disitu bisa diajari cara menyusui yang bener, posisi dhedhek tersayangnya gimana nih yang bener, dan sebagainya. Selain itu, ibu-ibu juga harus pede, supaya keluar aura positif, yang secara otomatis melancarkan ASI.
2. Kerja, sibuk, ga sempet dsb
Jangan salah lhoh, sudah jamannya sekarang ibu kerja tetep bisa menyusui anaknya secara eksklusif. Ibu meres ASI di kantor sekarang justru wajar, dan dibeberapa kantor justru ibu tersebut akan sangat dihargai.
Setahuku, sudah ada undang2nya bahwa kantor ga boleh lagi menghalang-halangi ibu-ibu yang mau meres ASI, kalau menghalangi, laporkan! *atau lempar aja make botol asi nya tuh
3. Tekanan keluarga
nhah ini nih yang bikin ruwet. Emang untuk bisa sukses dengan ASI eksklusif, adalah setelah meyakinkan diri, dan membulatkan tekad, langkah selanjutnya adalah mengedukasi orang-orang sekitar, mulai dari suami, ortu, mertua, pembantu, sampai ke teman kalau perlu. Edukasi ini akan lebih efektif kalau dilakukan jauh-jauh hari sebelum lahiran, sehingga pas lahiran, lingkungan kita sudah siap mendukung pemberian ASI eksklusif.
Tanpa mengurangi semangat bagi yang dah terlanjur non ASI eksklusif, yuks ayuks galakkan ASI eksklusif.
Mari lanjut ke artikel part.2 tentang iklan sufor yang super agresif di sini.